event

Tampilkan Sendratari Perjalanan Bruder Karitas

Tepuk tangan terdengar bergemuruh saat pertunjukan sendratari bertajuk “Perjalanan Bruder Karitas di Indonesia” selesai dilakonkan oleh siswa-siswa SLB/B Karya Bakti Don Bosco, Selasa siang (15/10) di acara Perayaan Syukur 90 tahun Karya Bruder Karitas di Indonesia. Hengky Krisnawan, sang koreografer Sendratari merasa kagum kepada antusiasme dan keseriusan para siswa di tengah keterbatasan yang mereka punya.

“Proses pengerjaan sendratari ini kurang lebih 4 minggu. Ketika cerita saya dapatkan, langsung kami buat komposisi dan koreo. Kesulitannya, jelas karena mereka tidak bisa mendengar dan kurang lancar berbicara, sedangkan saya tidak menguasai bahasa isyarat, jadi ya bahasa komunikasi yang kami lakukan adalah isyarat ala saya”, jelas Hengky.

Sendratari Perjalanan Bruder di Indonesia

Dengan sedikitnya 100 pemain yang diikuti oleh siswa kelas tingkat persiapan hingga menengah, guru hingga beberapa penari dari luar sekolah, sendratari ini dikemas apik dengan sentuhan akulturasi budaya.

“Ceritanya, Bruder dari Belanda, maka awal kita setting tema Belanda. Ketika Bruder naik kapal, datang ke Jakarta, kita tampilkan tarian Lenong dan Pencak Silat. Lalu dari Jakarta, Bruder naik mobil ke Jawa Tengah. Di Purworejo, bruder melihat  kesenian Jawa Tengah Kuda Kepang, pergantian musik menjadi klenengan gamelan. Nhah kita sisipkan dengan tarian dan budaya untuk menguatkan cerita.”, jelas Hengky yang juga merupakan penata aransemen sendratari.

Untuk proses latihan, ada beberapa tahapan yang Hengky lakukan. Dibantu oleh asisten Oktafiyani Prasetyaningrum dan beberapa pengajar Don Bosco, Rosawitha dan Dian, setelah kerangka jadi, para pemain dibagi menjadi beberapa kelompok.

Anak-anak SLB/B Karya Bakti Don Bosco di pertunjukan sendratari acara Perayaan 90 tahun Bruder Karitas

“Awalnya kita bagi per kelompok. Blocking. Jadi ketika kerangka jadi, saya buat keluar masuknya. Misal adegan Belanda, siapa saja. Adegan Jepang, siapa saja. Setelah mereka paham dengan alur keluar masuknya, satu kelompok kita buatkan koreo. Kemudian kita padukan.”, ungkap Hengky.

Dengan penata gendhing Restu Budi Rahayu dan dibantu ilustrasi oleh Tito, sendratari yang berdurasi kurang lebih 16 menit ini, tambah Hengky diharapkan bisa menjadi salah satu karya kolaborasi siswa Don Bosco dengan pihak luar dan bisa semakin memupuk kepercayaan diri mereka untuk nantinya bisa terjun ke masyarakat.

Siswa kelas 9, Joko Kristiono mengaku senang dan sangat terhibur, juga bangga karena bisa tampil di hadapan sedikitnya 500 penonton. Joko kagum dengan kostum-kostum yang digunakan salam sendratari, lengkap dengan senapan, samurai, dan properti lainnya.

Sendratari mengemas apik kisah perjalanan bruder dalam mengadakan missionary ke Indonesia. Dessy, salah satu pengajar dan koordinator acara menjelaskan bahwa pada tanggal 15 Oktober 1929, untuk yang pertama kalinya 5 orang Bruder Belanda dari Kongregasi Bruder Karitas/ Brothers of Charity (BoC) menginjakkan kakinya di Kabupaten Purworejo yg kini menjadi Rumah Induk di Indonesia.

“Menyaksikan kondisi rakyat Indonesia yang miskin, lemah dan cacat semakin menguatkan keyakinan hati para Bruder tersebut untuk kemudian melayani. Perjalanan pelayanan terhadap kaum miskin lemah dan cacat tetap berlanjut meskipun Indonesia menghadapi penjajahan Bangsa Jepang. Para Bruder tetap melayani untuk mengajarkan baca-tulis, pelayanan kesehatan dan lainnya hingga masa kemerdekaan sampai saat sekarang ini.”, terang Desy.

Sendratari memasukkan unsur budaya seperti tarian pencak silat untuk menegaskan perjalanan bruder ke beberapa tempat di Indonesia

Pelayanan yang dilakukan adalah di bidang kesehatan, pendidikan bagi anak disabilitas dan non disabilitas, org dg gangguan kesehatan jiwa, korban penyalahgunaan narkoba hingga rumah jompo.

“Unit karya BoC antara lain di Purworejo (pelayanan kesehatan jiwa, SD-SMP non disabilitas, SLB C dan rumah jompo), Wonosobo (LPATR Donbosco dan SLB Karya Bakti-pendidikan dan pelayanan Anak Tunarungu), Yogyakarta (Panti Rehabilitasi Penyalahgunaan Narkoba, TK-SMA non disabilitas), Purwokerto (SD-SMA non disabilitas), Ruteng (rehabilitas kesehatan jiwa)”, tambahnya.

Selain sendratari, acara dengan ratusan penonton itu juga dimeriahkan dengan penampilan pentas seni dari masing-masing unit karya seperti paduan suara, keroncong, dan tarian. (wen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *