budaya,  kerjasama,  wisata

11 Hal Yang Harus Kamu Ketahui tentang Bundengan, Alat Musik dari Wonosobo

“Gondhang Keli semarangan
Wong mati mujur kalangan
Sucenono
Sucenono banyu suci…”

Lengger Punjen yang diiringi musik Bundengan

Begitu lagu dikumandangkan, diiringi oleh  petikan musik Bundengan , menyeruak harum bunga mawar di pojokan,  aura magis dan “klenik” langsung terasa. Selagi telinga kita dihipnotis oleh alunan  lagu Gondhang Keli dan nada-nada sendu yang diciptakan oleh petikan senar di dalam Bundengan, mata kita akan tidak henti-henti menatap sepasang penari yang menarikan tari Lengger.

Seni tari Lengger sendiri, sudah ada di Wonosobo sejak zaman dahulu. Meskipun stigma yang ada adalah bahwa Lengger kerap dibawakan oleh Banyumas, namun jika kita perhatikan,  Lengger Banyumas dan Lengger Wonosobo terdapat banyak perbedaan yang signifikan. Tari Lengger pada masing-masing daerah memiliki ciri khas sesuai dengan sifat-sifat khusus daerah setempat dan ketidaksamaan perkembangan sejarah yang dialaminya. Misalnya saja daerah yang perkembangan sejarahnya sangat dipengaruhi oleh kepercayaan agama Islam tentu adat kebiasaan masyarakat serta corak keseniannya sangatlah dipengaruhi oleh kepercayaan tersebut. Dan di Wonosobo terdapat Lengger Punjen, yaitu seni tari yang dibalut atraksi “memunji”.  Penari wanita berdiri dan menari dengan membawa properti boneka dan payung dibahu penari laki-laki. Saat pertunjukan penari laki-laki yang “memunji” mengenakan topeng Rangu-rangu mengalami kesurupan, si penari perempuan yang diatas , memegang bayi golek dan  juga payung. Lengger ini, selain diiringi seperangkat gamelan, juga kerap bersanding dengan alat musik Bundengan.

Bicara soal Bundengan,  ada 11 hal yang harus kamu ketahui tentang Bundengan ini, apa saja?

Bundengan adalah Tudung “Angon” Anti Petir

Bundengan mewakili ke-khas-an Wonosobo. Bundengan atau Kowangan atau Tudung merupakan sebuah penutup badan berukuran kurang lebih 120 cm x 90 cm yang biasa digunakan petani atau bocah angon / gembala dan dibuat dari rangka bambu tali atau bambu apus. Kemudian ditutupi menggunakan clumpring dan dililit menggunakan ijuk untuk mengikat clumpring dan juga di pucuk atas bundengan.  Zaman dahulu, mereka berfikiran bahwa pohon kelapa masih bisa tersambar oleh petir. Tapi belum ada ceritanya bahwa pohon aren tersambar oleh petir. Jadi ketika mereka ke sawah, ketika mereka kehujanan mereka tetap merasa aman karena sudah ada anti petirnya di atas bundengan.

Seorang penggembala bebek dalam menggunakan kowangan. (Foto: Muhammad Sa’id 2015)

Bundengan “Bersuara” Menyerupai Gamelan

Musik bundengan dulunya menggunakan ijuk (sebagai senar) dan beberapa batang bambu yang suaranya jika dipetik serupa dengan musik gending dan gendang. Hal pokok pada instrumen bundengan ini terletak pada susunan bilah bambu dan dawai di dalamnya yang berkedudukan sebagai sumber produksi suara. Kemudian badannya itu sendiri yang berperan sebagai ruang resonatornya. Dua unsur instrumentasi tersebut masing-masing memiliki peran tersendiri. Bilah bambu berperan sebagai kendang sedangkan dawai di dalamnya berperan sebagai melodinya. Melodi pada dawai tersebut memerankan wilayah melodi seperti pada bendhe, kempul, dan gong.

Suara yang dihasilkan Bundengan ini serupa dengan gamelan

Seni Bundengan sempat Tertidur selama 20 Tahun Lebih

Seni Bundengan ini sempat tertidur selama 20 tahun lebih, pernah dikenal luas pada tahun 50-an hingga 70-an. Namun, sosok saat ini yang kembali mengangkat Bundengan yaitu almarhum Barnawi, seorang seniman asal Kalikajar yang sudah meninggal tahun 2012 lalu. Almarhum Barnawi ini pula yang memodifikasi Bundengan yang tadinya bersenar ijuk, diganti menjadi senar nilon sehingga suaranya lebih nyaring dan tahan lama. Saat itu, penerus musik Bundengan sangat sedikit, bahkan salah satu penerusnya adalah Munir, adik Barnawi. Bundengan juga masih terus berproduksi, di sentra Bundengan, yakni di daerah Kalikajar yang menjadi kampung kelahiran Barnawi yang jadi maestro Bundengan.

 

Pernah Difilmkan dengan Judul “Aura Magis Musik Bundengan”

Kisah Barnawi ini juga akhirnya dibuat film oleh Bambang Hengky, jurnalis televisi dan pembuat film dokumenter dengan judul “Aura Magis Musik Bundengan”. Bambang Hengky yang merupakan praktisi perfilman mengangkat tema tersebut untuk menggali keunikan musik bundengan dan Agus Wuryanto sebagai sang penulis naskah dan Budayawan Wonosobo melacak sejarahnya hingga ke kitab kuno WretaSancaya , bahkan Agus kerap mengajak Barnawi semasa hidupnya bersama grup lengger untuk tampil di berbagai kota.  Film ini diharapkan bisa menginspirasi para pelajar dan pemuda yang ingin mengangkat kearifan lokal Wonosobo.

Cover film dokumenter “Aura Magis Musik Bundengan”

Hashtag #BundenganConnection

Para pegiat musik Bundengan juga membuat koneksi dan jejaring di dunia maya melalui tagar #bundengan dan #bundenganconnections sebagai identitas dan untuk melacak berbagai dokumentasi tentang bundengan. Mereka berharap, pencapaian ini bisa menjadi awal dari pelestarian bundengan dan memotivasi pemerintah Indonesia, khususnya Wonosobo untuk terus mengangkat bundengan.

Bundengan Jadi Ekstrakurikuler di Sekolah

Salah satu upaya untuk terus menghidupkan warisan seni musik khas Wonosobo dilakukan guru seni SMPN 2 Selomerto (Spero) yakni dengan memperkenalkan Bundengan pada Siswa. Upayanya semakin disambut positip dengan meningkatnya frekuensi penampilan Bundengan di beberapa even tingkat kabupaten. Selain itu, instrument bundengan juga cukup terjangkau, sehingga bisa diproduksi masal dari pengerajin lokal dan bahan bakunya mudah didapat, yakni dari clumpring bamboo. Menurut Mulyani, yang kesehariannya mengajar seni di SMPN 2 Selomerto , agenda latihan diadakan rutin tiap hari Rabu dan kini sudah tersedia lebih dari 20 instrumen Bundengan.

 

Ekstrakurikuler Bundengan di SMP N 2 Selomerto

Angkat Bundengan, Rebut Juara 1 Nasional

Dua siswa asal SMPN 2 Selomerto (Spero) kembali mengharumkan nama Wonosobo dengan prestasinya di lomba bidang karya tulis ilmiah tingkat nasional yang diadakan oleh Taruna Nusantara (TN) Magelang bertajuk Lomba karya inovasi pelajar pekan lalu (28/10). Wiwin Astuti dan Raden Yodha JD berkelompok mengangkat Bundengan sebagai kearifan lokal mengembangkan karakter siswa yang menjadi karya mereka dan bersaing dengan seluruh pelajar tingkat SMP se-Indonesia. Setelah masuk dalam 10 besar nominasi dan mengikuti pameran, akhirnya tim Bundengan Spero lolos ke lima besar. Kedua pemenang juga mendapatkan beasiswa tiga tahun di TN dan lolos uji akademik. Wiwin dan Yodha juga berhak menerima hadiah Rp2 juta beserta piala bergilir dari Taruna Nusantara.

Tim bundengan bersama guru pendamping dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Wonosobo

Jadi Materi Berbagai Workshop Nasional Hingga Horas Jakarta Pentas Bundengan

Mulyani, Guru seni di SMP N 2 Selomerto juga turut melestarikan Bundengan lewat Sanggar Ngesti Laras dan berhasil menggelar Workshop Bundengan di Pendopo Kabupaten Wonosobo tahun lalu. Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Wonosobo juga menanggapi adanya inisiatif workshop Bundengan bagi para pelajar tersebut , apresiatif dan mendukung penuh. Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. Wonosobo juga memiliki program forum komunikasi media tradisional (FK Metra), dan Bundengan ini diyakini layak masuk sebagai salah satu media seni tradisional untuk menyosialisasikan berbagai program pemerintah daerah. Diikuti dengan Seminar tingkat Nasional di ISI Solo bersama para praktisi asal Wonosobo. Beliau  juga sudah rutin menggelar pementasan bersama para siswa siswi Don Bosco dena Upakara.

Bahkan, para mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang selama tiga hari mengeksplorasi seni budaya Wonosobo khususnya alat musik Bundengan mengadakan pentas yang dikemas dalam drama musikal bertajuk Horas Jakarta ditampilkan di pendopo Wonosobo, Rabu (14/3) sore. Tak hanya perwakilan pemkab, masyarakat umum, komunitas, hingga para pelajar ikut meramaikan agenda tersebut.

Horas Jakarta tampilkan Bundengan

Bundengan Menjadi Bahan Penelitian Pakar Musik Amerika dan Dosen Australia

Bahkan, seni musik Bundengan ini juga menjadi bahan penelitian salah satu dosen Monash University Australia, karena dinilai memiliki keunikan tersendiri dibanding alat musik lain. Itu yang membawa praktisi alat musik Bundengan terlibat dalam pentas bundengan dalam eksplorasi musik kontemporer bersama para akademisi music etnis dari Australia dan berbagai Negara lainnya untuk tampil di berbagai even dalam rangkaian festival Making Connection di Sydney dan Melbourne.

Di akhir Oktober 2017 lalu, peneliti musik etnis asal California, Amerika Serikat,  Palmer Keen juga telah meneliti Bundengan ke Wonosobo. Palmer yang menggawangi Auralarchipelago.com juga terlibat langsung di symposium di Australia tersebut. Palmer juga menyinggung bahwa Bundengan sangat potensial untuk dikenalkan ke dunia Internasional. Mengingat tidak banyak alat musik khas yang menyerupai Bundengan.

Palmer Keen sedang memanggul bundengan Credit : auralarchipelago.com

Bundengan Pentas di Australia

Dalam perkembangannya, para pegiat musik dan musisi muda tertarik untuk mendalami Bundengan. Ada beberapa nama seperti Mulyani, Said Abdulloh, dan juga Lukmanul Chakim. Tiga praktisi alat musik Bundengan Wonosobo ini sempat tampil di berbagai even dalam rangkaian festival Making Connection di Sydney dan Melbourne Australia bulan Februari lalu. Mereka terlibat dalam pentas bundengan dalam eksplorasi musik kontemporer bersama para akademisi music etnis dari Australia dan berbagai Negara lainnya. Rangkaian seminar dan penampilan yang mengeksplorasi musik tradisional dan teknik pembuatan instrumen secara kontemporer tersebut, diprakarsai oleh Ethnomusikologis Australia, Rossie H Cook sekaligus pendiri Making Connections. Di seminar sendiri, melibatkan para pakar music etnik seperti Palmer Keen asal Amerika Serikat yang juga pernah meneliti bundengan ke Wonosobo dan dr Indraswari Kusumaningtya dan Dr Gea parikesit dari fakultas teknik UGM Jogja.

Setelah seminar di Universitas Sydney Credit : auralarchipelago.com

Bundengan Bisa “Dikawinkan” Dengan Apa Saja

Pada perkembangannya, Bundengan menjadi alat musik yang bisa “dikawinkan” dengan genre musik atau seni apa saja. Terbukti ketika acara Festival Merdeka 2017 kemarin, Hengki Krisnawan menampilkan karya improvisasi mengkolaborasikan instrument khas asli Wonosobo itu dengan gitar dan harmonica. Mengiringi Alissa Wahid membacakan puisi berjudul Seonggok Jagung karya WS Rendra bersama dengan Sarah N Soul. Saat di Australia kemarin pun, Bundengan sukses berkolaborasi  dengan seni visual yakni bersama Jumaadi (Visual shadow), dan juga composer Musik dari Australia Bianca (music composer) di Universitas Sydney.

Kolaborasi di Festival Merdeka 2017

 

Kolaborasi Bundengan dengan seni visual di Sidney. Credit : auralarchipelago.com

Jadi, kapan kamu mau belajar Bundengan ?

 

 

Photo Credit :
Erwin Abdillah
auralarrchipelago.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *